Babeltoday.com, Bangka — Pengurus Karang Taruna Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memenuhi undangan Kepala Desa Jada Bahrin, Kabupaten Bangka, dalam kegiatan pemaparan dan diskusi terkait rencana kerja sama budidaya tanaman nilam di Kantor Desa Jada Bahrin. Kegiatan tersebut berlangsung pada Senin (12/1/2026) dan dihadiri oleh perangkat desa, warga, serta perwakilan pemuda Desa Jada Bahrin.

Kedatangan pengurus Karang Taruna Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dipimpin langsung oleh Ketua Karang Taruna Babel, Haidir Asnan, didampingi pengurus lainnya yakni Dr. Yudi Sapta Pranoto, S.P., M.Si., dosen Universitas Bangka Belitung (UBB) Jurusan Agribisnis yang menjadi pemapar utama, serta Deni. Kehadiran Karang Taruna Provinsi ini merupakan tindak lanjut dari undangan resmi pemerintah desa untuk melihat langsung potensi dan kesiapan desa dalam pengembangan tanaman nilam.

Dalam pemaparannya, Yudi menjelaskan bahwa nilam merupakan tanaman penghasil minyak atsiri (patchouli oil) yang memiliki nilai strategis di pasar nasional maupun internasional. Minyak nilam digunakan sebagai bahan pengikat aroma dalam industri parfum, kosmetik, farmasi, sabun, dan aromaterapi, serta tidak dapat digantikan oleh bahan sintetis. Saat ini Indonesia diketahui menguasai sekitar 95 persen pasokan minyak nilam dunia, sehingga peluang pengembangannya masih terbuka lebar.
Lebih lanjut disampaikan, Desa Jada Bahrin memiliki karakteristik lahan yang mendukung budidaya nilam, mulai dari kondisi tanah hingga sistem drainase yang baik. Tanaman nilam juga dapat dibudidayakan secara tumpang sari dengan komoditas perkebunan yang telah ada, tanpa membutuhkan teknologi mahal, sehingga dinilai cocok dikembangkan melalui kerja sama desa dan Karang Taruna.
Ketua Karang Taruna Babel, Haidir Asnan, menyampaikan apresiasinya atas inisiatif Kepala Desa Jada Bahrin yang membuka ruang kolaborasi dengan Karang Taruna. Ia menegaskan bahwa pemenuhan undangan ini menjadi langkah awal membangun sinergi antara pemuda dan pemerintah desa dalam menciptakan sumber ekonomi baru berbasis potensi lokal. (Red/*)