Bukan yang Pintar, yang Adaptif yang Bertahan

Transformasi teknologi menuntut manusia yang mau belajar, berubah, dan bertahan.

0 16

BABELTODAY.COMIPANGKALPINANG – Di era digital, kepintaran saja tidak lagi cukup. Dunia kerja berubah terlalu cepat untuk ditaklukkan hanya dengan ijazah, gelar, atau pengetahuan yang pernah dianggap unggul. Teknologi mengubah cara orang bekerja, organisasi dipaksa menyesuaikan diri, dan keterampilan yang relevan hari ini bisa dengan cepat tertinggal besok. Karena itu, ukuran keunggulan sumber daya manusia kini tidak lagi sekadar ditentukan oleh seberapa banyak yang ia tahu, tetapi seberapa cepat ia belajar, berubah, dan menyesuaikan diri.

Pesan itu sangat relevan jika dibaca dari Bangka Belitung. Daerah ini tidak hanya sedang menghadapi arus digitalisasi, tetapi juga tuntutan untuk memperkuat daya tahan ekonomi dan kualitas manusianya. Data terbaru menunjukkan bahwa ekonomi Bangka Belitung pada 2025 tumbuh 4,09 persen, membaik cukup tajam dibandingkan 2024 yang hanya 0,77 persen. Nilai PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp116,81 triliun, sedangkan PDRB per kapita mencapai Rp75,32 juta. Dari sisi produksi, pertumbuhan terutama ditopang industri pengolahan, sedangkan dari sisi pengeluaran didorong oleh ekspor barang dan jasa. Ini menunjukkan bahwa ekonomi daerah mulai bergerak lebih kuat, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa daya saing ke depan sangat bergantung pada kualitas tenaga kerjanya.

Perbaikan itu juga terlihat pada sisi sosial. Pada September 2025, persentase penduduk miskin Bangka Belitung turun menjadi 4,77 persen, atau sekitar 74,65 ribu orang. Ketimpangan pengeluaran yang diukur melalui Gini Ratio juga turun menjadi 0,214, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Namun, ada catatan penting yang tidak boleh diabaikan: garis kemiskinan Bangka Belitung mencapai Rp992.426 per orang per bulan, dan angka ini termasuk yang tertinggi di Indonesia. Artinya, walaupun statistik menunjukkan perbaikan, tekanan biaya hidup tetap menjadi persoalan yang nyata.

Di pasar kerja, ceritanya juga serupa: ada kemajuan, tetapi pekerjaan rumahnya masih besar. Data terbaru menunjukkan bahwa pada November 2025 jumlah angkatan kerja Bangka Belitung mencapai 826.380 orang, dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja 69,47 persen. Jumlah penduduk yang bekerja tercatat 790,87 ribu orang, sedangkan jumlah pengangguran 35,51 ribu orang dengan Tingkat Pengangguran Terbuka 4,30 persen. Namun, lebih dari separuh pekerja—tepatnya 51,04 persen—masih berada di sektor informal. Dari sisi pendidikan, hanya 15,10 persen pekerja yang berpendidikan diploma ke atas, sementara 47,02 persen masih berpendidikan SMP ke bawah. Ini berarti tantangan utama Bangka Belitung bukan lagi sekadar membuka lapangan kerja, tetapi meningkatkan kualitas tenaga kerja agar mampu naik kelas.

Di titik inilah persoalan adaptasi menjadi penting. Dunia kerja hari ini tidak cukup diisi oleh orang-orang yang sekadar cerdas secara akademik. Ia membutuhkan manusia yang bisa belajar ulang, bekerja lintas fungsi, beradaptasi dengan teknologi, dan tetap produktif dalam situasi yang cepat berubah. Keahlian tetap memang masih penting, tetapi tidak lagi cukup. Mereka yang merasa sudah selesai belajar justru berisiko lebih cepat tertinggal dibanding mereka yang terus memperbarui diri.

Karena itu, organisasi tidak bisa lagi hanya mengandalkan orang-orang pandai. Yang dibutuhkan adalah budaya belajar. Keberhasilan transformasi digital sangat dipengaruhi oleh kemampuan tenaga kerja untuk beradaptasi, berpikir kolaboratif, belajar terus-menerus, berani bereksperimen, dan berbagi pengetahuan. Dalam bahasa yang lebih sederhana, organisasi yang hanya diisi orang-orang cerdas tetapi tidak memiliki budaya belajar justru lebih rapuh dibanding organisasi yang mungkin biasa-biasa saja, tetapi adaptif. Di era digital, kemampuan berubah jauh lebih berharga daripada rasa nyaman dengan pengetahuan lama.

Sebetulnya, Bangka Belitung punya modal yang cukup baik untuk bergerak ke arah itu. Di bidang pembangunan manusia, IPM Bangka Belitung pada 2025 mencapai 75,26, naik dari 74,55 pada 2024. Ini menandakan kualitas hidup masyarakat bergerak ke arah yang lebih baik. Di sisi digital, Bangka Belitung juga mencatat capaian membanggakan: dalam Indeks Masyarakat Digital Indonesia 2025, provinsi ini berada di peringkat kedua nasional dengan skor 52,15, di atas rata-rata nasional 44,53. Dengan kata lain, Bangka Belitung sudah punya fondasi awal. Tantangannya sekarang adalah memastikan bahwa kemajuan digital itu benar-benar diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas manusia.

Peluang ini juga didukung oleh semakin luasnya akses internet. Digitalisasi bukan lagi isu kota besar semata. Ia sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam belajar, bekerja, berdagang, dan berinteraksi. Karena itu, daerah seperti Bangka Belitung tidak lagi bisa melihat teknologi sebagai tambahan, melainkan sebagai bagian dari kebutuhan dasar pembangunan manusia.

Masalahnya, dalam banyak lembaga, pengembangan SDM masih terlalu administratif. Pelatihan sering diperlakukan sebagai formalitas, sertifikat lebih dihargai daripada perubahan kemampuan, dan digitalisasi kadang berhenti pada penggunaan aplikasi. Padahal, transformasi sumber daya manusia tidak cukup hanya dengan perangkat baru. Yang jauh lebih penting adalah perubahan cara berpikir, budaya kerja, dan kesediaan untuk terus belajar.

Hal yang sama berlaku di sektor publik. Transformasi digital birokrasi memang dapat meningkatkan efisiensi, transparansi, dan fleksibilitas kerja. Namun, pembaruan birokrasi tidak boleh berhenti pada sistem baru. Ia harus menyentuh manusianya: cara berpikirnya, cara belajarnya, dan kesediaannya untuk berubah. Reformasi digital tanpa perubahan budaya hanya akan menghasilkan sistem yang tampak modern, tetapi tidak benar-benar memperbaiki pelayanan.

Pada akhirnya, kekuatan utama sebuah daerah tidak semata terletak pada sumber daya alam atau besarnya anggaran pembangunan, tetapi pada kualitas manusianya. Bangka Belitung boleh mencatat pertumbuhan ekonomi yang membaik, kemiskinan yang menurun, dan indeks digital yang menguat. Namun, semua itu baru benar-benar bermakna jika diikuti oleh pembangunan SDM yang adaptif. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, kepintaran tanpa kemauan belajar ulang akan mudah tertinggal. Sebaliknya, kemampuan beradaptasi akan menjadi bekal utama untuk bertahan, tumbuh, dan memberi manfaat. Maka, pelajaran paling penting bagi Bangka Belitung dan bagi kita semua sesungguhnya sederhana: di era digital, yang bertahan bukan semata yang pintar, tetapi yang adaptif.

(Penulis : M. Agus Abdul Majid Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Bangka Belitung)

Leave A Reply

Your email address will not be published.