Babeltoday.com, Bangka Belitung (11/10/2025) – Di negeri yang konon menjunjung tinggi transparansi, seorang warga bernama Edi Irawan berdiri di garis sunyi perjuangan. Ia tak membawa massa dan tak menuntut jabatan atau fasilitas — hanya meminta hak publik untuk tahu, sebagaimana dijamin oleh Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik.
Namun, langkah sederhana itu ternyata membuat banyak orang gusar.
Birokrat yang seharusnya menjelaskan justru menutup pintu, dan sebagian media yang dulu bangga menulis “independen” kini malah beralih peran: dari pengawas kekuasaan menjadi pembela kekuasaan.
Ironisnya, muncul sejumlah tulisan yang mencoba “mengcounter” perjuangan Edi. Ditulis tergesa, tanpa wawancara, tanpa riset, tanpa jejak lapangan — hanya menyalin dari sumber yang nyaman di kursi pejabat. Narasinya seragam: “semua sudah sesuai aturan.”
Begitulah, ketika pena kehilangan nuraninya, yang tersisa hanyalah tinta yang mengabdi pada kenyamanan.
Lalu pertanyaannya:
Untuk apa mengkritik Edi Irawan — seorang warga biasa — yang hanya menuntut haknya atas keterbukaan informasi?
Jika pejabat publik wajar dikritik karena digaji dari uang rakyat, mengapa warga yang meminta transparansi justru diserang?
Apakah keadilan kini bergantung pada jabatan, bukan pada kebenaran?
Beberapa media tampak lebih sibuk menjaga “kerjasama” dengan pemerintah ketimbang menjaga independensi redaksinya. Mereka menulis bukan karena panggilan nurani, melainkan karena surat perjanjian kerja sama publikasi. Dari pena yang dulu lantang kini hanya tersisa gema lembut: “kami mendukung program pemerintah.”
Sungguh ironi, ketika seorang warga berjuang menegakkan undang-undang, sebagian jurnalis justru menudingnya seolah pembuat onar.
Ketika pemerintah seharusnya membuka data, media malah menutup mata.
Edi Irawan memang bukan siapa-siapa. Tapi ia menjadi cermin: bahwa di negeri ini, yang meminta keadilan bisa dianggap musuh, sementara yang menutup kebenaran justru dielu-elukan.
Anekdot ini barangkali tak lucu, tapi seharusnya menggelitik nurani.
Sebab di tengah derasnya informasi, justru yang paling sulit hari ini adalah menemukan jurnalisme yang berpihak pada kebenaran, bukan pada kekuasaan. (Red/*)