Mengapa Dunia Kembali Memilih Nuklir?
Penulis: Anastasya Dwi Mulia. Mahasiswa Program Studi Fisika, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Bangka Belitung
Babeltoday.com, Pangkalpinang – Dalam dua dekade terakhir, konsensus ilmiah dan kebijakan energi global bergerak ke arah yang semakin tegas. IPCC dalam Sixth Assessment Report menegaskan bahwa pembatasan kenaikan suhu global hingga 1,5°C hampir mustahil dicapai tanpa kontribusi signifikan energi nuklir, bersama energi terbarukan dan efisiensi energi. Secara empiris, listrik nuklir memiliki intensitas emisi sekitar 12 gram CO₂ per kWh, setara dengan angin dan lebih rendah daripada surya dalam perhitungan siklus hidup, jauh di bawah batu bara yang berada di atas 800 gram CO₂ per kWh. Fakta ini menjadikan nuklir sebagai sumber energi besar dengan jejak karbon yang secara praktis minimal.
Secara global, tenaga nuklir saat ini menyuplai sekitar 9 hingga 10 persen listrik dunia dari lebih dari 420 reaktor aktif dengan kapasitas terpasang sekitar 420 GW. International Energy Agency memproyeksikan bahwa tanpa ekspansi nuklir, target Net Zero Emissions 2050 akan menghadapi defisit pasokan listrik rendah karbon yang signifikan, terutama ketika elektrifikasi transportasi, industri, dan pusat data mendorong lonjakan permintaan listrik. Dalam skenario Net Zero, kapasitas nuklir global diperkirakan perlu setidaknya dua kali lipat sebelum 2050 agar sistem kelistrikan tetap stabil dan rendah emisi.
Pertanyaannya sederhana tapi krusial: Mengapa dunia kembali memilih nuklir?
Jawabannya mencakup ilmu pengetahuan, keamanan energi, krisis iklim, dan kebutuhan masa depan yang tidak bisa dihindari.
Kontribusi nuklir terhadap pengurangan emisi bersifat nyata dan terukur. International Atomic Energy Agency mencatat bahwa selama lima dekade terakhir, penggunaan tenaga nuklir telah mencegah pelepasan lebih dari 60 gigaton CO₂ yang seharusnya dihasilkan jika listrik tersebut berasal dari pembangkit fosil. Saat ini saja, nuklir diperkirakan menghindarkan dunia dari sekitar 2 gigaton emisi CO₂ setiap tahun, angka yang tidak dapat dengan mudah digantikan oleh sumber lain tanpa meningkatkan ketergantungan pada gas atau batu bara.
Dengan kata lain, kebangkitan nuklir bukan didorong nostalgia teknologi lama, melainkan kalkulasi rasional atas batas waktu iklim dan kebutuhan sistem energi modern. Ketika dunia membutuhkan listrik dalam jumlah besar, stabil, dan bebas karbon selama 24 jam sepanjang tahun, nuklir muncul bukan sebagai opsi ideologis, melainkan sebagai konsekuensi logis dari realitas ilmiah dan kebijakan energi global.
Energi terbarukan tidak cukup berdiri sendiri. Secara teknis, sistem kelistrikan modern memerlukan baseload yang stabil. Data International Energy Agency menunjukkan capacity factor rata rata PLTN berada di kisaran 90 hingga 93 persen, jauh di atas surya utilitas yang berkisar 20 hingga 25 persen dan angin darat sekitar 30 hingga 40 persen. Tanpa sumber non intermiten, sistem listrik berisiko mengalami blackout atau bergantung pada gas sebagai penyangga. Itulah sebabnya Prancis mampu menjaga intensitas karbon listriknya tetap rendah dengan lebih dari 60 persen listrik berasal dari nuklir, sementara Korea Selatan, Finlandia, dan Tiongkok secara sadar menempatkan nuklir sebagai tulang punggung yang melengkapi energi terbarukan, bukan menggantikannya.
Nuklir modern jauh lebih aman secara desain dan statistik. Reaktor generasi III+ dan SMR mengadopsi passive safety systems yang bekerja berdasarkan hukum fisika, bukan intervensi manusia. OECD dan IAEA mencatat bahwa tingkat kematian per unit energi listrik yang dihasilkan nuklir berada di antara yang terendah di dunia, bahkan lebih rendah dibanding angin dan surya jika memperhitungkan kecelakaan rantai pasok. Tidak ada mekanisme ledakan seperti senjata nuklir, dan probabilitas kecelakaan parah pada desain modern dinilai mendekati nol. Secara komparatif, WHO dan berbagai studi epidemiologi menunjukkan polusi udara dari batu bara menyebabkan jutaan kematian dini setiap tahun, suatu risiko sistemik yang sering diabaikan dalam debat publik.
Nuklir unggul dalam efisiensi energi dan penggunaan lahan. Kepadatan energi nuklir secara fisika tidak tertandingi, satu gram uranium menghasilkan energi setara beberapa ton batu bara. World Nuclear Association mencatat bahwa PLTN berkapasitas 1.000 MW dapat beroperasi pada lahan sekitar 1 km², sementara pembangkit surya dengan output tahunan setara memerlukan puluhan kilometer persegi. Limbah nuklir volumenya kecil, terlokalisasi, dan dapat dikendalikan secara ketat, berbeda dengan limbah fosil yang tersebar di atmosfer dan berdampak lintas generasi.
Krisis energi global mengubah kalkulasi politik. Lonjakan harga gas pasca konflik Rusia Ukraina memperlihatkan bahwa ketergantungan fosil adalah kerentanan strategis. Negara negara Eropa yang sebelumnya skeptis kini kembali membangun PLTN baru. Finlandia mengoperasikan Olkiluoto 3, Inggris melanjutkan Hinkley Point C, Belanda dan Prancis memperluas program nuklirnya. Bahkan IEA mengakui bahwa nuklir berkontribusi pada stabilitas harga listrik jangka panjang karena biaya bahan bakarnya relatif kecil dan tidak terpengaruh volatilitas geopolitik.
Nuklir menjadi kunci dekarbonisasi industri berat. Industri baja, semen, petrokimia, dan hidrogen memerlukan energi besar dan panas proses tinggi yang tidak realistis dipenuhi hanya dengan surya dan angin. Reaktor nuklir mampu menyediakan panas di atas 700 hingga 800°C serta listrik stabil untuk produksi hidrogen rendah karbon. Kanada, Jepang, Korea, dan Tiongkok secara eksplisit memasukkan nuklir dalam strategi industri masa depan mereka. Dalam konteks Indonesia, kebutuhan energi industri yang besar dan berkelanjutan menjadikan nuklir bukan sekadar opsi teknis, melainkan instrumen transformasi ekonomi jangka panjang.
Nuklir berjalan berdampingan, bukan berhadapan, dengan energi bersih lainnya. Arsitektur sistem listrik rendah karbon yang kini diadopsi negara maju justru bersifat hibrida, memadukan surya, angin, hidro, baterai, dan nuklir. IEA secara eksplisit menyatakan bahwa sistem berbasis energi terbarukan variabel memerlukan sumber firm low carbon power agar tetap stabil dan ekonomis. Nuklir berfungsi sebagai penopang struktural yang menjaga keandalan jaringan ketika cuaca tidak bersahabat, sekaligus memungkinkan penetrasi energi terbarukan yang lebih tinggi tanpa ketergantungan pada gas. Dalam konteks Indonesia, kajian PLTN di Bangka Belitung secara rasional diposisikan sebagai penguat sistem Sumatra dan Jawa, bukan pesaing PLTS atau PLTB, tetapi fondasi menuju sistem bebas karbon yang resilien.
Pergeseran sikap generasi muda mengubah legitimasi sosial nuklir. Survei lintas negara menunjukkan peningkatan dukungan publik terhadap nuklir di kalangan usia muda, terutama ketika nuklir diposisikan sebagai solusi iklim berbasis sains, bukan simbol militer. Transparansi data, keterbukaan diskursus akademik, dan contoh keberhasilan negara lain telah mengikis narasi ketakutan lama. Fenomena ini tercermin pada meningkatnya program studi nuklir, komunitas ilmiah muda, serta partisipasi peneliti Indonesia dalam forum IAEA dan kolaborasi internasional. Legitimasi sosial ini penting, karena transisi energi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga penerimaan publik jangka panjang.
Pada akhirnya, kebangkitan nuklir bukanlah anomali sejarah, melainkan koreksi rasional atas keterbatasan pendekatan energi sebelumnya. Nuklir menawarkan kombinasi yang jarang dimiliki sumber lain, bebas karbon, stabil, aman secara statistik, efisien secara ruang dan logistik, serta mampu menopang industri dan kedaulatan energi. Dunia kembali memilih nuklir bukan karena kehabisan opsi, tetapi karena data ilmiah dan realitas geopolitik mengarah pada kesimpulan yang sama. Indonesia kini berada pada simpang strategis, apakah menjadi konsumen perubahan global, atau aktor yang berani menyalakan masa depan energi bersihnya sendiri.
Pada akhirnya, pilihan terhadap nuklir bukanlah soal keberanian politik semata, melainkan soal kedewasaan kebijakan. Ketika krisis iklim kian mendesak, kebutuhan energi terus melonjak, dan ketidakpastian geopolitik menjadi norma baru, negara yang rasional akan memilih solusi yang paling stabil, paling bersih, dan paling terukur risikonya. Nuklir memenuhi seluruh kriteria itu. Ia bukan pengganti energi terbarukan, melainkan fondasi yang memungkinkan transisi energi berjalan tanpa mengorbankan keandalan sistem dan kepentingan nasional. Bagi Indonesia, keputusan ini bukan hanya tentang listrik, tetapi tentang arah peradaban, apakah kita berani membangun masa depan berbasis ilmu pengetahuan, kedaulatan energi, dan tanggung jawab antar generasi. (Red/*)