Bung Dodoy Terbitkan Buku “Kekuatan Bersama”, Soroti Krisis Pola Pikir dan Masa Depan Pembangunan Desa Penyak Bukan Sekadar Kritik Sosial
BANGKA TENGAH — JUMAT 06/11/2026. Tokoh pemuda sekaligus praktisi hukum Bangka Tengah, Bung Dodoy., yang akrab disapa Bung Dodoy, tengah mempersiapkan penerbitan sebuah buku berjudul “Kekuatan Bersama: Menembus Kebodohan dan Menuju Pembangunan Desa Penyak yang Mandiri.”
Buku tersebut menjadi bentuk refleksi sosial, kritik terhadap pola pikir masyarakat, evaluasi kepemimpinan, sekaligus tawaran gagasan perubahan untuk masa depan Desa Penyak, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Gagasan penulisan buku ini berangkat dari kegelisahan Bung Dodoy terhadap sejumlah persoalan mendasar yang dinilainya masih menjadi tantangan pembangunan desa. Mulai dari kualitas sumber daya manusia, karakter sosial, kesadaran kolektif, budaya masyarakat, hingga kepemimpinan dan arah pemanfaatan potensi ekonomi desa.
Menurut Dairi, persoalan pembangunan desa tidak semata-mata berkaitan dengan keterbatasan anggaran, minimnya bantuan pemerintah, maupun kurangnya investasi. Lebih jauh, pembangunan juga sangat ditentukan oleh kualitas pola pikir, karakter, kesadaran hukum, serta kemampuan masyarakat dalam memahami kepentingan jangka panjang.
Ia menilai, perubahan akan sulit diwujudkan apabila masyarakat masih terjebak dalam kepentingan sesaat, sulit menerima kritik, dan enggan membuka ruang pembelajaran.
Fenomena gaya hidup konsumtif, kecenderungan hedonisme, rendahnya kepedulian terhadap lingkungan, serta pemanfaatan sumber daya alam tanpa mempertimbangkan keberlanjutan menjadi sejumlah persoalan yang akan dibahas secara kritis.
Evaluasi tersebut juga diarahkan kepada seluruh elemen yang mempunyai pengaruh terhadap pembangunan desa, termasuk perangkat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, dan para pemangku kepentingan lainnya.
OTORITAS KEPEMIMPINAN HARUS DIIMBANGI TANGGUNG JAWAB DAN KEBERSAMAAN
Dalam salah satu pembahasan utama, Bung Dodoy menyoroti pentingnya kepemimpinan desa yang kuat, tegas, berani mengambil keputusan, serta tidak mudah dipengaruhi kepentingan kelompok tertentu.
Namun, menurutnya, ketegasan seorang pemimpin tidak boleh diartikan sebagai tindakan sewenang-wenang. Kepemimpinan harus tetap berjalan berdasarkan hukum, transparansi, demokrasi, dan keterlibatan masyarakat.
Pemimpin yang kuat harus mampu menciptakan keteraturan, membangun kedisiplinan, memastikan program berjalan sesuai tujuan, serta menempatkan kepentingan masyarakat luas di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
“Desa tidak akan pernah maju apabila semua orang ingin didengar, tetapi tidak ada yang mau mendengar. Semua merasa paling benar, tetapi sedikit yang mau belajar. Semua ingin menikmati hasil pembangunan, tetapi tidak semua bersedia ikut bertanggung jawab,” menjadi salah satu pesan reflektif yang diangkat dalam gagasan buku tersebut.
POTENSI DESA PENYAK BESAR, JANGAN DIHABISKAN UNTUK KEPENTINGAN SESAAAT
Bung Dodoy juga akan mengulas berbagai potensi ekonomi Desa Penyak yang dinilainya perlu dikelola secara bijaksana, adil, dan berkelanjutan.
Beberapa sektor yang menjadi perhatian antara lain:
1. Pertambangan timah: Pengelolaan potensi pertambangan dengan memperhatikan legalitas, keselamatan kerja, kepentingan masyarakat, serta perlindungan lingkungan.
2. Perikanan dan nelayan: Penguatan ekonomi keluarga nelayan, perlindungan kawasan pesisir, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
3. Perkebunan kelapa sawit: Mendorong kemitraan yang adil antara masyarakat, koperasi, dan perusahaan.
4. Investasi tambak udang: Memastikan investasi memberikan manfaat nyata melalui penyerapan tenaga kerja lokal, kontribusi sosial, kepatuhan lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi.
5. Hutan dan kawasan pesisir: Menjaga sumber daya alam agar tidak dieksploitasi secara berlebihan demi keuntungan jangka pendek.
Menurutnya, potensi desa tidak boleh hanya dinikmati oleh generasi sekarang tanpa memikirkan masa depan anak cucu.
Jangan sampai masyarakat hari ini memperoleh keuntungan dari pemanfaatan sumber daya alam, sementara generasi berikutnya justru mewarisi kerusakan lingkungan, berkurangnya kawasan hutan, dan semakin terbatasnya ruang hidup.
BUKAN SEKADAR MENGKRITIK, BUNG DODOY TAWARKAN SOLUSI
Buku ini, menurut Dairi, tidak dimaksudkan sekadar menjadi kumpulan kritik terhadap masyarakat maupun pemerintahan desa. Lebih dari itu, ia ingin menghadirkan gagasan dan solusi yang dapat menjadi bahan diskusi bersama.
Sejumlah agenda perubahan yang akan dibahas meliputi:
– Reformasi pola pikir dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
– Kepemimpinan desa yang tegas, terukur, dan bertanggung jawab.
– Penguatan koperasi dan ekonomi kerakyatan.
– Transparansi anggaran serta program pembangunan desa.
– Optimalisasi bantuan sosial agar tepat sasaran.
– Perlindungan hutan, pantai, dan lingkungan hidup.
– Pengawasan terhadap investasi dan aktivitas perusahaan.
– Peningkatan kualitas pendidikan dan kesadaran hukum.
– Penguatan peran pemuda dalam pembangunan.
– Membangun budaya gotong royong, disiplin, dan tanggung jawab sosial.
Ia berharap gagasan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus dorongan bagi masyarakat dan pemerintah desa untuk membangun sistem pembangunan yang lebih terbuka, terukur, dan berpihak kepada kepentingan bersama.
PESAN BUNG DODOY: JANGAN WARISKAN KEBODOHAN DAN KERUSAKAN KEPADA ANAK CUCU
Dairi, S.H. menegaskan bahwa buku tersebut bukan bentuk permusuhan terhadap masyarakat, perangkat desa, tokoh agama, maupun kelompok tertentu.
Sebaliknya, penulisan buku ini merupakan wujud kepedulian dan keberanian menyampaikan persoalan yang mungkin tidak selalu nyaman didengar, tetapi perlu dibicarakan demi perubahan.
Sebagai tokoh pemuda dan Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Milenial Bangka Tengah Keadilan, ia ingin mengajak masyarakat memahami bahwa pembangunan sejati tidak cukup hanya dengan membangun jalan, gedung, maupun menghadirkan investasi.
Pembangunan yang sesungguhnya adalah membangun manusia, memperbaiki pola pikir, meningkatkan kesejahteraan, menjaga lingkungan, serta memastikan setiap kebijakan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.
“Saya tidak ingin Desa Penyak hanya dikenal karena tambang timah, perkebunan sawit, nelayan, dan investasi perusahaan. Saya ingin Desa Penyak dikenal karena masyarakatnya cerdas, pemimpinnya berintegritas, pemudanya berani, ekonominya mandiri, lingkungannya terjaga, dan kehidupan sosialnya tertata,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan pesan penting mengenai tanggung jawab generasi sekarang terhadap masa depan desa.
“Kita tidak boleh mewariskan hutan yang habis, pantai yang rusak, dan masyarakat yang terus bergantung kepada bantuan. Kita harus mewariskan desa yang kuat secara ekonomi, cerdas secara pemikiran, dan bermartabat dalam kehidupan sosial.”
Bung Dodoy berharap, ketika diterbitkan nanti, buku tersebut dapat menjadi ruang refleksi dan bahan diskusi bagi masyarakat, pemerintah desa, pemuda, akademisi, pelaku usaha, serta seluruh pihak yang memiliki kepedulian terhadap masa depan Desa Penyak.
Baginya, perubahan tidak akan lahir dari kebiasaan membenarkan diri sendiri. Perubahan dimulai ketika masyarakat berani mengakui persoalan, menerima kritik, dan bekerja bersama mencari solusi.
Sebab, desa yang mandiri bukan hanya desa yang kaya sumber daya alam, melainkan desa yang memiliki masyarakat berpengetahuan, kepemimpinan berintegritas, ekonomi yang kuat, serta kesadaran untuk menjaga masa depan generasi berikutnya.
TENTANG PENULIS
Dairi, S.H. (Bung Dodoy)
– Tokoh Pemuda Bangka Tengah.
– Ketua LBH Milenial Bangka Tengah Keadilan.
– Praktisi hukum/Advokat.
– Penggerak kritik sosial dan gagasan pembangunan masyarakat.
Judul Buku: Kekuatan Bersama: Menembus Kebodohan dan Menuju Pembangunan Desa Penyak yang Mandiri.
Lokasi gagasan dan refleksi: Desa Penyak, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
BabelToday.Com :
Mega Lestari