Sejarah di Atas Kain, Data di Balik Layar: Pelajaran Digital Analytics dari Tanah Wari

Di Pangkalpinang, ada merek fashion yang menjual lebih dari pakaian. Brand tersebut adalah Tanah Wari yang dimiliki oleh Finalia Arifin, SH serta sang Suami Brian Arya Putra, ST, MT yang berasal dari Provinsi Kep. Bangka Belitung

0 1

BABELTODAY.COM (PANGKALPINANG) – Di Pangkalpinang, ada merek fashion yang menjual lebih dari pakaian. Brand tersebut adalah Tanah Wari yang dimiliki oleh Finalia Arifin, SH serta sang Suami Brian Arya Putra, ST, MT yang berasal dari Provinsi Kep. Bangka Belitung

Tanah wari mengusung konsep “Sejarah di atas Kain”, yaitu menjadikan warisan budaya Bangka Belitung sebagai cerita yang bisa dikenakan. Konsep ini kuat. Namun di era belanja daring, cerita yang kuat belum tentu sampai ke orang yang tepat. Di titik inilah digital analytics menjadi kebutuhan, bukan pelengkap.

Cerita yang baik perlu dibuktikan dengan data :

Merek heritage punya keunggulan yang sulit ditiru: makna. Pembeli tidak sekadar mencari bahan dan model, tetapi juga kisah di balik motif dan identitas daerah. Meski begitu, pelaku usaha sering berhenti pada keyakinan bahwa ceritanya pasti disukai. Padahal keyakinan perlu diuji.

Digital analytics menjawab pertanyaan yang selama ini hanya ditebak. Motif mana yang paling banyak dilihat dan disimpan calon pembeli? Apakah unggahan tentang sejarah di balik kain lebih diminati daripada foto produk biasa? Apakah pembeli lebih tertarik pada cerita atau pada tampilan? Jawabannya ada di statistik Instagram, TikTok, marketplace, dan situs web, dan sebagian besar bisa diakses gratis.

Membaca pelanggan, bukan hanya penjualan :

Penjualan hanya memberi tahu apa yang sudah terjadi. Analitik menjelaskan mengapa. Dengan membaca data audiens, Tanah Wari bisa mengetahui dari kota mana peminatnya berasal, apakah mereka perantau asal Bangka Belitung yang rindu kampung halaman, wisatawan yang mencari oleh-oleh bermakna, atau pencinta busana etnik di luar pulau. Setiap kelompok punya kebutuhan dan cara berbelanja berbeda, sehingga pesan promosinya pun sebaiknya berbeda.

Data juga membantu keputusan produksi. Pada usaha fashion, kesalahan menebak berarti stok menumpuk dan modal tertahan. Pola pencarian, jumlah produk yang masuk keranjang belanja, hingga pertanyaan berulang di pesan pelanggan bisa menjadi dasar menentukan model, warna, dan jumlah yang layak diproduksi.

Efisiensi bagi usaha kecil :

Bagi UMKM, anggaran promosi terbatas dan tiap rupiah harus bekerja. Analitik memungkinkan pelaku usaha membandingkan saluran: apakah iklan berbayar benar-benar menghasilkan pembelian, atau justru konten organik yang membawa pelanggan setia? Tanpa data, keputusan ini hanya perkara selera. Dengan data, anggaran dapat dialihkan ke tempat yang terbukti memberi hasil.

Ada pula manfaat yang sering terlewat, yaitu mengukur kekuatan merek. Seberapa sering orang menyebut, menyimpan, dan membagikan konten Tanah Wari menunjukkan seberapa dalam cerita itu menyentuh audiens. Bagi merek yang menjual makna, angka semacam ini sama pentingnya dengan omzet.

 Mulai dari langkah kecil :

Saya paham, pelaku UMKM jarang punya waktu untuk berkutat dengan grafik. Tidak perlu langsung memakai perangkat rumit. Mulailah dengan kebiasaan sederhana: setiap minggu, catat tiga hal, yaitu produk atau konten apa yang paling banyak direspons, dari mana pembeli datang, dan kapan audiens paling aktif. Setelah beberapa bulan, pola akan terlihat dan keputusan menjadi lebih terarah.

Langkah ini akan lebih mudah bila ada pendampingan. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan komunitas kreatif di Bangka Belitung dapat berperan lewat pelatihan yang langsung dipraktikkan pada akun milik pelaku usaha, bukan sekadar seminar sehari yang berakhir dengan sertifikat.

Warisan butuh strategi :

Ada pandangan keliru bahwa merek berbasis budaya cukup mengandalkan keaslian. Keaslian memang fondasi, tetapi keberlanjutan menuntut kemampuan membaca pasar. Melestarikan budaya lewat bisnis berarti usahanya harus sehat dan terus tumbuh, sebab merek yang berhenti berjalan tidak lagi bisa menceritakan apa pun.

Tanah Wari menunjukkan bahwa sejarah daerah bisa menjadi aset ekonomi kreatif. Tugas berikutnya adalah memastikan aset itu dikelola dengan cermat. Jika kain membawa sejarah, data membantu sejarah itu menemukan pembacanya. UMKM Bangka Belitung yang berani menggabungkan keduanya akan siap bersaing, bukan hanya di Pangkalpinang, melainkan di pasar yang jauh lebih luas.

Oleh : Mohammad Rafli – 3132511031 ( Mahasiswa Magister Manajemen UBB )

Leave A Reply

Your email address will not be published.