Ketua DPRD Dukung Program Zero Stunting, Apresiasi Inovasi Dinkes Pangkalpinang
DPRD Pangkalpinang Kawal Target Zero Stunting 2026, Soroti Peran Puskesmas dan Posyandu
BABELTODAY.COM, PANGKALPINANG — Ketua DPRD Kota Pangkalpinang, Abang Hertza, menyatakan komitmen penuh untuk mendukung langkah strategis Pemerintah Kota dalam mencapai target zero stunting. Dukungan tersebut disampaikan sebagai respons atas program penanganan stunting yang digagas oleh Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang. Kamis (26/2/2026)
Menurut Hertza, inovasi yang dicanangkan Dinas Kesehatan berupa permulasi khusus sebagai pilar pencegahan stunting pada tahun 2026 merupakan langkah tepat dan harus mendapat dukungan lintas sektor. Ia menilai program tersebut menyentuh langsung faktor-faktor utama penyebab stunting sejak masa kehamilan hingga usia balita.
Program pencegahan yang dimaksud meliputi sejumlah intervensi penting, antara lain konsumsi tablet tambah darah secara rutin bagi remaja putri dan ibu hamil, pemeriksaan kehamilan secara teratur, peningkatan konsumsi protein hewani, kehadiran rutin di Posyandu setiap bulan, serta pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi.
“Kami mendukung sepenuhnya kebijakan ini. Fokus utama saat ini adalah memastikan sosialisasi sampai ke tingkat akar rumput agar masyarakat benar-benar memahami pentingnya pencegahan stunting sejak dini,” ujar Hertza, Kamis.
Ia menegaskan, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada keterlibatan aktif tenaga kesehatan, kader Posyandu, serta partisipasi masyarakat. Oleh karena itu, ia meminta seluruh Puskesmas di wilayah Pangkalpinang membuka akses seluas-luasnya bagi warga yang membutuhkan layanan konsultasi maupun pemeriksaan.
“Puskesmas harus responsif. Jika ada laporan warga yang terindikasi stunting, harus segera ditindaklanjuti. Jangan sampai terlambat karena dampaknya bisa permanen terhadap tumbuh kembang anak,” tegasnya.
Hertza juga menyoroti keunggulan geografis Kota Pangkalpinang yang dinilai sangat mendukung percepatan intervensi kesehatan. Dengan wilayah yang relatif kecil serta jarak antar kecamatan yang tidak terlalu jauh, distribusi layanan kesehatan dinilai lebih mudah dibanding daerah lain.
Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya mampu meminimalkan hambatan akses masyarakat terhadap fasilitas kesehatan. Selain itu, keberadaan Puskesmas, Posyandu, serta fasilitas kesehatan lainnya yang tersebar di berbagai titik kota menjadi modal kuat dalam menurunkan angka stunting secara signifikan.
“Dengan sebaran fasilitas kesehatan yang memadai, tidak ada alasan program ini tidak berjalan maksimal. Tinggal bagaimana koordinasi dan konsistensi pelaksanaannya di lapangan,” ujarnya.
DPRD, lanjut Hertza, akan menjalankan fungsi pengawasan secara aktif untuk memastikan program berjalan sesuai target. Ia menegaskan bahwa pencapaian zero stunting bukan hanya prestasi pemerintah daerah, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia di masa depan.
“Kami akan memantau terus perkembangan program ini agar benar-benar memberikan dampak nyata dan menunjang kebijakan zero stunting,” katanya.
Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat dapat mempercepat penurunan angka stunting di Pangkalpinang, sehingga generasi mendatang tumbuh sehat, cerdas, dan produktif. Program pencegahan yang komprehensif sejak dini diyakini menjadi kunci utama dalam memutus mata rantai stunting secara berkelanjutan. (Ryan A Prakasa/Babel Today)