Sadis! Santri Ponpes Diduga Korban Penganiayaan, Alat Vital Bengkak Diikat Benang

0 517

Foto : Ilustrasi bocah sedang dirawat oleh tim medis di rumah sakit. (int)

BANGKATENGAH,Babeltoday com – Sungguh malang dialami bocah satu ini sebut saja si Upin (8). Pasalnya, Upin kini harus menjalani perawatan intensif dari para medis karena alat vitalnya mengalami pembengkakan cukup serius akibat ulah perbuatan para pelaku yang diduga para santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Arifin, Lingkungan Tayib, Kelurahan Dul, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah.

Belum diketahui jelas hal apa yang menjadi permasalahan sehingga Upin (korban) diketahui merupakan seorang santri yang pernah menimbah ilmu di Ponpes tersebut kini mesti menanggung rasa sakit pada kemaluannya itu.

Sementara keterangan yang berhasil dihimpun tim Kantor Berita Online Bangka Belitung (KBO Babel) Menyebutkan jika kejadian ini diperkirakan terjadi cukup lama namun baru diketahui setelah bagian batang alat vital milik Upin kini harus mendapat pengobatan sekaligus perawatan intensif di salah satu rumah sakit di Jakarta.

Menurut sumber menyebutkan, jika pelaku penganiaya Upin diduga sesama rekan santri yang sama menimbah ilmu di Ponpes Al Arifin, Dul. Upin sendiri mengalami pembengkakan pada batang kemaluannya karena diduga gegara diikat menggunakan seutas benang.

Namun belum diketahui secara jelas penyebab dan motif pelaku hingga tega melakukan tindakan kejam tersebut. Kejadian ini pun sempat membuat heboh para santri di Ponpes Al Arifin, Dul Bangka Tengah. Meski begitu, kejadian ini pun akhirnya dilaporkan ke pihak kepolisian atau Polda Kep Bangka Belitung, Rabu (15/1/2024).

Foto : Bangunan berbentuk masjid ini digunakan sebagai sarana belajar para santri di Ponpes Al Arifin. Sementara asrama/mess berada di belakang bangunan ini. (Jika)

Terkait kasus ini tim KBO Babel berupaya menghubungi pihak Polda Kep Bangka Belitung yakni melalui Kabid Humas Polda Kep Bangka Belitung, Kombes Pol Jojo Sutarjo. Pihak kepolisian jika kasus ini telah dilaporkan oleh pihak keluarga korban

“Kasus ini sudah dilaporkan ke Polda Kep Bangka Belitung jadi kasus ini dalam penyelidikan termasuk anggota kita nantinya akan diberangkatkan ke Jakarta,” kata Jojo saat dihubungi melalui sambungan nomor ponselnya, Jumat (19/1/2023) sore.

Meski tak menjelaskan kronologis kejadian namun Jojo sempat menambahkan jika korban (Upin) merupakan santri Ponpes Al Arifin, Dul berasal dari luar pulau Bangka dan saat ini telah dibawa ke rumah sakit di Jakarta dan akan menjalani operasi.

Terpisah, ketua Ponpes Al Arifin, ustad Ahmad Zaini saat ditemui tim KBO Babel tak menampik adanya kabar soal kejadian dugaan tindak aniaya terhadap seorang santri oleh seorang santri di Ponpes yang dipimpinnya saat ini.

Namun ia sendiri mengaku sebelumnya sempat terkejut karena baru menerima kabar kasus ini yang dilaporkan ke pihak Kemenag Babel termasuk pihak kepolisian. Padahal menurutnya korban (Upin) sudah keluar dari Ponpesnya terhitung sudah 8 bulan.

“Anak itu (Upin – red) sudah keluar dari Pondok Pesantren kita terhitung sudah 8 bulan. Nah selama ini tidak ada laporan apapun tentang kejadian yang menimpa anak itu,” kata Zaini, Jumat (19/1/2024) sore.

Bahkan diakuinya belum lama ini pun sempat mendapat panggilan dari Kanwil Kemenag Babel terkait adanya laporan kejadian yang menimpa seorang santri (Upin) di Ponpesnya.

Begitu pula terkait kasus ini pun sejumlah santri asal Ponpes Al Arifin pun sempat disidang oleh pengurus Ponpes setempat guna menelusuri informasi kejadian

Namun menurut pengakuan para santri yang ada di Pesantren kita bahwa yang suka ganggu atau nge-bully dia (Upin – red) adalah anak-anak kelas 6, ungkapnya.

Meski begitu ia sendiri meyakini jika pihak pengurus Ponpes sampai saat ini belum dapat memastikan saja santri atau pihak-pihak yang diduga terlibat dalam kasus ini karena mengaku masih terkendala masalah bukti.

Di Ponpes Al Arifin, menurut Zaini jumlah total para santri/siswa yang menimbah ilmu terbilang sekitar 400 lebih siswa, dan dari jumlah tersebut sebanyak 100 santri yang tidak mondok (menginap di Ponpes).

“Nah kalau si anak itu (Upin – red) dia tidak mondok tapi dia hanya bersekolah umum saja jadi masuk pagi dan pulangnya jam 11 siang,” terangnya.

Meski begitu Zaini mengaku merasa sangat kecewa terkait sikap orang tua korban yang dinilainya tidak mematuhi aturan maupun memberi tahu pengurus Ponpes Al Arifin saat membawa anak (korban) pindah ke luar pulau Bangka.

“Anak itu (Upin — red) dibawa sama orang tua atau ibu kandungnya ke Jakarta tanpa ada pemberitahuan kepada kami. Bahkan orang tua itu pun hanya melalui pesan Whats App (,WA) minta surat pindah sekolah,” kata Zaini.

Selain itu, Upin sendiri menurutnya selama ini tinggal bersama kakeknya termasuk kakak kandungnya Upin pun ikut diurus oleh kakeknya di Kota Pangkalpinang. Sedangkan orang tua kandung kedua anak ini menetap di luar pulau Bangka atau di Jakarta.

“Kakak kandung anak itu juga sekolahnya di Pesantren kita kelas 3 SMP tapi kakaknya ini justru sempat mondok di sini. Namun baru dua bulan ini kakak kandungnya kami keluarkan dari Pesantren karena perilakunya sudah melebihi batas kewajaran,” terang Zaini.

Tak cuma itu menurut Zaini, jika kakak kandung Upin pun diketahuinya sering berbuat usil terhadap adik kandungnya sendiri di lingkungan Ponpoesnya.

Sejauh ini tim KBO Babel masih mengupayakan konfirmasi kepada orang tua korban terkait kasus dugaan tindak lanjut kejadian ini yang diduga terjadi di lingkungan Ponpes Al Arifin tersebut.
(KBO Babel/tim)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!