Kantor Tempo Diteror Kiriman Kepala Babi, Bentuk Ancaman terhadap Kebebasan Pers

0 118

BabelToday.com, Jakarta Kantor media Tempo mendapat teror berupa kiriman kepala babi pada Rabu (19/3). Kepala babi tersebut dibungkus dalam kotak kardus yang dilapisi stirofoam. Paket itu ditujukan kepada “Cica,” nama panggilan Francisca Christy Rosana, seorang wartawan desk politik sekaligus host siniar Bocor Alus Politik (BAP) Tempo.

Paket diterima oleh satuan pengamanan Tempo pada pukul 16.15 WIB. Namun, Cica baru mengetahui dan menerima paket tersebut keesokan harinya, Kamis (20/3) sekitar pukul 15.00 WIB, sepulang dari liputan bersama rekannya, Hussein Abri Yusuf Muda Dongoran.

“Saya diberi tahu ada paket kiriman untuk saya,” ujar Cica.

Ia kemudian membawa kotak tersebut ke kantor. Hussein yang membuka kotak pertama kali mencium bau busuk begitu bagian atas kardus dibuka. Setelah stirofoam dibuka, terlihat kepala babi dengan kedua telinganya telah terpotong.

Hussein dan Cica bersama beberapa wartawan lainnya segera membawa kotak tersebut ke luar gedung.

“Dipikir orang mengirim kue, rupanya kepala babi. Secara psikologis memang aman, tadi sudah kerja taping untuk BAP (Bocor Alus Politik),” ungkap Setri Yasra, Pemimpin Redaksi Tempo.

Setri menganggap tindakan ini sebagai bentuk ancaman terhadap kebebasan pers.

“Ini adalah teror terhadap proses kerja jurnalistik. Cica, kamu, saya, adalah wartawan yang bekerja diatur undang-undang,” tegasnya.

Perlindungan untuk Wartawan

Tempo menyatakan akan memberikan perlindungan penuh kepada Cica. Menurut Setri, ini bukan kali pertama wartawan Tempo menjadi target teror. Sebelumnya, Hussein juga mengalami serangan berupa perusakan kaca mobilnya yang dilempari batu hingga pecah.

“Kita punya SOP untuk menjaga keselamatan wartawan. Ada level ancaman yang kita identifikasi, dan jika itu terjadi, wartawan tersebut tidak boleh bekerja sendiri, harus didampingi,” ujar Setri.

Selain itu, Tempo sedang mempertimbangkan untuk melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian. Peristiwa perusakan mobil Hussein telah dilaporkan dua kali, meskipun hingga kini belum ada tersangka yang diidentifikasi.

“Meski kita tidak tahu siapa yang meneror dan apa motifnya, untuk mendapatkan keadilan tentu kita harus melapor ke lembaga penegak hukum,” kata Setri. Namun, ia belum memastikan tanggal pelaporan, karena pihaknya masih mempersiapkan dokumen dan administrasi yang diperlukan.

Tempo Tidak Gentar

Setri memastikan bahwa Tempo tidak akan mundur menghadapi teror semacam ini. Ia mengingatkan bahwa Tempo sudah sering menghadapi berbagai tekanan sejak pertama kali berdiri pada 1971.

“Kita sudah pernah mengalami badai, sampai tutup, itu kurang kencang apa? Kalau teror, pernah molotov, pernah digugat sampai mau bangkrut,” katanya.

Menurut Setri, komitmen Tempo untuk bekerja bagi publik tidak akan goyah.

“Ini aset satu-satunya Tempo: Konsisten, bekerja untuk publik, untuk republik, menjadi clearing house of information, bicara fakta yang sebenarnya,” tegasnya.

Setri menegaskan bahwa Tempo akan terus menjalankan tugas jurnalistik dengan berpegang teguh pada prinsip yang telah menjadi dasar berdirinya media tersebut. “Ketika prinsip itu tidak lagi kami pegang, sudah pasti Tempo bubar,” ujarnya.

Ancaman terhadap Kebebasan Pers

Kiriman kepala babi ini dipandang sebagai ancaman serius terhadap kebebasan pers. Teror semacam ini mencerminkan upaya untuk mengintimidasi wartawan dalam menjalankan tugasnya. “Secara psikologis memang aman, tadi sudah kerja taping untuk BAP,” kata Setri mencoba menenangkan wartawannya.

Dengan komitmen yang kuat terhadap kebebasan pers, Tempo kembali menegaskan bahwa mereka tidak akan terpengaruh oleh ancaman semacam ini dan akan terus bekerja untuk menyampaikan kebenaran kepada publik. (Sumber: Matahukum, Editor: KBO-Babel)

Leave A Reply

Your email address will not be published.