Aroma Khas Teh Tayu dari Jebus yang Kini Mengharumkan Nama Bangka Belitung di Dunia

0 3

Babeltoday.com, Pangkalpinang — Aroma khas Teh Tayu memenuhi ruangan Kantor KBO Babel, Kamis (21/5/2026). Namun yang hadir hari itu bukan sekadar secangkir teh. Di balik uap hangat yang tersaji, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan menjaga warisan lokal, mempertahankan identitas daerah, hingga membawa nama Jebus, Bangka Barat, menembus panggung internasional.

Perempuan itu bernama Sugia Kam. Dengan penuh semangat, ia datang memperkenalkan sekaligus mempromosikan Teh Tayu, minuman khas legendaris asal Kecamatan Jebus yang sejak tahun 2018 terus ia perjuangkan agar tidak hilang ditelan zaman.

Di hadapan awak media dan sejumlah tamu yang hadir, Sugia Kam berbicara bukan hanya sebagai pelaku usaha, tetapi sebagai sosok yang sedang menjaga jejak sejarah daerahnya.

“Teh Tayu ini bukan sekadar minuman. Ini bagian dari sejarah, budaya, dan kekayaan alam Jebus yang harus dijaga bersama,” ujar Sugia Kam.

Teh Tayu memang memiliki cerita berbeda dibanding teh pada umumnya. Jika kebanyakan teh tumbuh di kawasan pegunungan, Teh Tayu justru hidup di dataran rendah Jebus. Keunikan inilah yang membuatnya disebut sebagai salah satu perkebunan teh dataran rendah yang langka di Indonesia.

Karakter tanah dan iklim di wilayah Jebus menciptakan aroma serta rasa khas yang sulit ditemukan di daerah lain. Rasa ringan berpadu aroma alami menjadikan Teh Tayu memiliki identitas tersendiri.

Sugia Kam menjelaskan, hingga kini proses budidaya Teh Tayu masih dilakukan secara alami dan tradisional oleh masyarakat setempat. Mulai dari pemilihan bibit, perawatan tanaman, hingga pengeringan daun teh dilakukan dengan penuh ketelatenan demi menjaga kualitas rasa.

“Daunnya dipilih secara khusus, lalu diolah dengan cara tradisional supaya cita rasa dan aromanya tetap asli,” jelasnya.

Bagi masyarakat Jebus, Teh Tayu bukan hanya minuman pelepas dahaga. Teh ini juga dipercaya memiliki manfaat kesehatan, mulai dari membantu relaksasi tubuh, melancarkan pencernaan, hingga menjadi minuman alami yang cocok dikonsumsi sehari-hari.

Menariknya lagi, hasil penelitian laboratorium dari Polman Sungailiat menunjukkan bahwa sisa ampas Teh Tayu masih memiliki nilai manfaat karena dapat diolah menjadi pupuk organik untuk pertanian.

“Bukan hanya tehnya yang bermanfaat diminum, tetapi ampasnya juga bisa digunakan sebagai pupuk alami. Ini menjadi nilai tambah yang luar biasa,” ungkap Sugia Kam.

Perjalanan Teh Tayu hingga dikenal luas tentu tidak terjadi dalam semalam. Sugia Kam mengaku memulai semuanya dari langkah sederhana, memperkenalkan Teh Tayu dari lingkungan kecil di Bangka Barat.

Namun perlahan, produk khas Jebus itu mulai menarik perhatian berbagai kalangan. Dari promosi lokal, Teh Tayu kemudian tampil di sejumlah pameran dan galeri internasional, bahkan berhasil masuk galeri di Paris, Prancis.

“Awalnya kami hanya memperkenalkan di daerah sendiri. Pelan-pelan mulai dikenal lebih luas sampai akhirnya bisa masuk galeri di Paris. Itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Jebus,” katanya dengan mata berbinar.

Di balik capaian tersebut, Sugia Kam mengaku perjuangan menjaga Teh Tayu masih menghadapi tantangan besar. Salah satu persoalan paling serius adalah semakin berkurangnya jumlah petani Teh Tayu di Jebus.

Tekanan ekonomi membuat banyak petani memilih beralih menjadi petani kelapa sawit yang dianggap lebih menjanjikan secara finansial. Kondisi itu membuat keberlangsungan Teh Tayu perlahan berada di titik yang mengkhawatirkan.

“Sekarang petani Teh Tayu semakin sedikit. Banyak yang beralih ke sawit karena dianggap lebih menjanjikan. Kalau tidak ada perhatian serius, kami khawatir Teh Tayu bisa perlahan hilang,” ujarnya prihatin.

Fenomena ini menjadi ironi tersendiri. Di saat Teh Tayu mulai dikenal dunia internasional, keberadaan petani lokal justru semakin menyusut. Padahal, Teh Tayu bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menyimpan identitas budaya dan potensi wisata yang besar bagi Bangka Barat maupun Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Karena itu, Sugia Kam berharap pemerintah daerah, baik Pemerintah Kabupaten Bangka Barat maupun Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dapat lebih serius memberi perhatian terhadap pengembangan Teh Tayu.

Menurutnya, dukungan promosi, pembinaan petani, hingga penguatan pasar sangat diperlukan agar Teh Tayu mampu berkembang menjadi produk unggulan daerah yang berdaya saing tinggi.

“Kami berharap pemerintah ikut membantu promosi Teh Tayu agar lebih dikenal masyarakat luas, bahkan dunia. Ini bisa menjadi ciri khas minuman asal Bangka Barat sekaligus membantu perekonomian masyarakat,” harapnya.

Kehadiran Sugia Kam di Kantor KBO Babel pun mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Perjuangannya dinilai menjadi simbol keteguhan masyarakat lokal dalam menjaga warisan budaya dan potensi alam daerah di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan ekonomi.

Kini, Teh Tayu bukan lagi sekadar minuman tradisional khas Jebus. Ia telah menjelma menjadi simbol perjuangan masyarakat akar rumput yang terus bertahan menjaga identitas daerah, sekaligus membawa harum nama Bangka Barat hingga ke panggung dunia. (KBO Babel)

Leave A Reply

Your email address will not be published.