KISAH NEK CENGET DIBALIK KELAMBU: NEGOSIASI POLITIK BERBAU MISTIS

Penulis : Mung 

0 68

Di kaki bukit Gantarawang, terdapat sebuah desa kecil yang diselimuti kabut hampir sepanjang tahun. Di sanalah tinggal seorang perempuan tua yang disebut warga sebagai Nek Cenget. Tak ada yang tahu pasti umurnya. Ia sudah ada sejak zaman kemerdekaan, kata orang tua-tua desa. Tapi wajahnya tak pernah berubah—tua, keriput, dan menakutkan.

Nek Cenget tinggal di sebuah rumah panggung reyot dengan kelambu putih menjuntai dari langit-langit ke lantai, memisahkannya dari dunia luar. Tak seorang pun pernah melihat wajahnya jelas. Hanya matanya yang menyala merah ketika malam datang, terutama jika ada yang datang membawa ambisi.

Setiap lima tahun sekali, menjelang pemilu kepala daerah, jalan setapak menuju rumah Nek Cenget selalu berbekas jejak baru—jejak sepatu mahal, parfum mewah, dan mobil yang berhenti di ujung jalan berbatu.

Tahun ini, orang itu bernama Midun. Seorang pengusaha sukses dari kota yang merasa sudah waktunya “turun gunung” dan menjadi pemimpin. Bukan karena panggilan nurani, tapi karena kejenuhan pada dunia bisnis yang sudah ia taklukkan. Ia ingin kekuasaan. Ia ingin nama.

Midun mendengar dari kolega lamanya tentang Nek Cenget. Tentang bagaimana beberapa calon kepala daerah sebelumnya tak punya modal kuat tapi bisa lolos dan menang mutlak, setelah “bertemu kelambu.” Maka ia datang malam itu, sendirian, dengan proposal di tas dan tekad dalam dada.

Di dalam rumah, aroma menyan begitu kuat. Kelambu tipis bergoyang pelan meski angin tak terasa. Dari baliknya, suara serak memanggil namanya sebelum ia sempat memperkenalkan diri.

“Midun… Kau datang terlambat. Tapi masih bisa.”

Midun tercekat. Ia belum pernah merasa takut. Tapi malam itu, seluruh tubuhnya dingin. Ia duduk bersila, membuka map yang dibawanya.

“Saya ingin maju sebagai calon kepala daerah. Saya punya modal, saya punya tim. Tapi saya butuh partai. Saya butuh pintu masuk.”

Tak ada jawaban. Hanya suara dedaunan yang bergerak sendiri di luar jendela. Lalu dari balik kelambu, sebuah tangan kurus keriput menyodorkan sehelai daun lontar. Di dalamnya, tertulis simbol aneh dan dua nama partai besar di kota itu.

“Datangi mereka. Jangan yang lain. Tapi… kau tahu syaratnya.”

“Apa syaratnya?” tanya Midun.

“Penuhi janji. Kau akan menangkan kursi. Tapi jika kau abaikan… kelambu akan datang dalam mimpimu. Dan mimpi itu akan nyata.”

Midun mengangguk. Ia tak bertanya lagi.

Dua minggu setelah itu, seperti sihir, dua partai besar menyatakan dukungan pada Midun. Lawan-lawan politiknya gigit jari. Tak ada yang tahu bagaimana ia bisa mengunci dukungan itu dalam waktu sesingkat itu.

Ia pun menang dalam pilkada. Sumpah jabatan pun dibacakan. Tapi satu hal yang ia lupakan: janji untuk membangun rumah pelayanan kesehatan gratis di Gantarawang, desa asal Nek Cenget.

Ia terlalu sibuk. Proyek infrastruktur, lobi anggaran, kontrak-kontrak besar. Semua menyita waktunya.

Hingga malam ke-40 sejak pelantikannya, mimpi itu datang. Ia melihat kelambu putih yang terbakar di ujung, tapi tak pernah habis. Dari balik kelambu, keluar suara tangis anak-anak dan jeritan tua-tua. Dan Nek Cenget—dengan matanya menyala merah, mendekat dengan langkah menyeret.

Pagi harinya, Midun muntah darah. Dokter tak menemukan penyakit apa pun. Esoknya, ia lumpuh sebelah tubuhnya. Ketiga, ia tak bisa bicara.

Di hari ke-44, seorang stafnya melihat Midun berdiri sendiri di balkon kantornya. Tidak berbicara. Hanya menatap langit dengan mata kosong.

Lalu ia melompat.

Ia ditemukan meninggal dengan tangan masih menggenggam sehelai daun lontar yang ia sembunyikan di balik dasi—daun yang dulu ia dapat dari Nek Cenget.

Orang-orang tak lagi berani mendekat ke rumah panggung itu. Tapi pada malam-malam tertentu, dari kejauhan, tampak cahaya redup di balik kelambu, dan suara lirih menyanyikan tembang lama.

Kelambu itu tetap tergantung. Menunggu ambisi baru. (Cerita dan gambar hanya fiksi)

Leave A Reply

Your email address will not be published.