DPRD Babel Soroti Krisis BBM di Pangkalpinang, Pertamina Diminta Segera Beri Solusi
Stok Pertalite dan Solar Kerap Habis, Warga Pangkalpinang Antre Berjam-jam di SPBU
BABELTODAY.COM, PANGKALPINANG – Antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, masih terjadi hingga Selasa (14/7/2026). Kondisi ini telah berlangsung sekitar sepekan terakhir dan memicu keluhan masyarakat karena kesulitan memperoleh bahan bakar minyak (BBM), terutama jenis Pertalite dan solar. Selasa (14/7/2026)
Pantauan di sejumlah SPBU menunjukkan antrean kendaraan roda dua, mobil pribadi hingga truk mengular sejak pagi hari. Bahkan, di beberapa titik antrean meluber hingga ke badan jalan sehingga berpotensi mengganggu arus lalu lintas.
SPBU Semabung, SPBU Kampak, SPBU Selindung, SPBU Pangkalbalam hingga SPBU Pasar Pagi menjadi lokasi yang dipadati kendaraan. Para pengendara harus rela menghabiskan waktu cukup lama demi mendapatkan BBM.
Salah seorang pengendara sepeda motor, Anton (35), mengaku sudah mengantre sekitar satu jam di SPBU Semabung untuk mendapatkan Pertalite.
Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan biasanya karena dalam beberapa hari terakhir stok Pertalite di sejumlah SPBU sering kali habis.
“Kemarin stok habis, sekarang mau tidak mau harus antre sudah satu jam,” ujarnya.
Anton mengatakan dirinya tetap memilih menggunakan Pertalite meskipun proses mendapatkannya jauh lebih sulit. Ia mengaku belum beralih ke Pertamax karena mempertimbangkan faktor ekonomi.
Menurutnya, harga Pertamax yang lebih tinggi membuat pengeluaran untuk kebutuhan transportasi menjadi semakin besar.
“Akhir-akhir ini terasa semakin sulit. Mau beli minyak untuk motor pun susah,” keluhnya.
Keluhan serupa disampaikan Firman, warga yang mengantre di SPBU Kampak. Ia mengungkapkan antrean panjang telah berlangsung sekitar sepekan dan mulai mengganggu aktivitas sehari-harinya.
Jika sebelumnya ia bisa mengisi BBM di sela-sela aktivitas bekerja, kini dirinya harus mengatur waktu khusus hanya untuk mengantre di SPBU.
“Dulu sambil kerja langsung mampir isi minyak, sementara sekarang harus direncanakan sejak awal buat antrean,” katanya.
Tidak hanya pengguna kendaraan pribadi, para sopir angkutan barang juga merasakan dampak kondisi tersebut.
Di SPBU Pasar Pagi, puluhan truk tampak mengantre untuk mendapatkan solar. Meski telah menggunakan sistem barcode, para sopir mengaku tetap harus menunggu berjam-jam.
Seorang sopir truk mengatakan antrean semakin panjang pada siang hingga sore hari sehingga tidak jarang stok solar telah habis sebelum seluruh kendaraan terlayani.
“Kami sudah pakai barcode tetap saja antre lama. Kalau sore jangan harap dapat minyak solar,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat jadwal distribusi barang menjadi terganggu karena waktu kerja banyak tersita untuk mengantre BBM.
Menanggapi persoalan tersebut, Ketua DPRD Kepulauan Bangka Belitung, Didit Srigusjaya, mengaku telah meninjau langsung sejumlah SPBU di Kota Pangkalpinang.
Dari hasil pemantauan, ia membenarkan bahwa hampir seluruh SPBU mengalami antrean panjang dan kondisi tersebut sangat membebani masyarakat.
“Memang kondisinya saat ini sangat menyusahkan masyarakat kita. Saya hari ini keliling melihat SPBU semuanya antre dan berdampak pada lalu lintas,” kata Didit.
Sebagai tindak lanjut, DPRD Kepulauan Bangka Belitung berencana segera memanggil pihak Pertamina guna meminta penjelasan mengenai penyebab terganggunya distribusi BBM yang memicu antrean panjang di berbagai SPBU.
Didit menegaskan DPRD ingin memastikan persoalan tersebut segera mendapat solusi sehingga masyarakat tidak lagi mengalami kesulitan memperoleh BBM.
“Kami memanggil Pertamina untuk mempertanyakan solusinya. Harapannya jangan lagi seperti ini, masyarakat harus mudah mendapatkan BBM,” tegasnya.
Masyarakat kini berharap distribusi BBM, khususnya Pertalite dan solar, dapat kembali normal dalam waktu dekat. Pasalnya, antrean panjang yang terus terjadi tidak hanya mengganggu mobilitas warga, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi, distribusi barang, hingga kelancaran lalu lintas di Kota Pangkalpinang. (Mung Harsanto/Babel Today)